Festival Budaya Lembah Baliem sebagai Ikon Pariwisata Papua di Mata Dunia

“Yogotak Hubuluk Motok Hanorogo”

Masyarakat Suku Hubula yang sangat menghargai sejarah ini masih terjebak dalam paradokma kehidupan manusia ber-stempel primitif. Sungguh pilu saat mengetahui bahwa justru sesama Warga Negara Indonesia yang memberi stamp tersebut. Sementara Warga Negara Asing sangat hormat. Ketidakadilan yang tergambar dalam cerita nyata seperti ini bisa menjadi bumerang melahirkan sikap skeptis bagi sesama Warga Negara jika dibiarkan terlalu lama. Solusinya hanya perlu strategi komunikasi khusus dalam mengemas seni pertunjukan berbasis pariwisata dan budaya yang edukatif, berdaya saing berdasar pada potensi sumber daya yang dimiliki oleh Kabupaten Jayawijaya melalui Festival Budaya Lembah Baliem tahun 2019 yang akan datang

Kreatifitas dan Inovasi adalah kunci. Masyarakat suku Hubula (Dani), warisan budaya peninggalan nenek moyang sebagai jejak peradaban dan potensi sumber daya di Kabupaten Jayawijaya adalah gerbang mencapai kehidupan sesuai motto Kabupaten Jayawijaya yang berbunyi “Yogotak Hubuluk Motok Hanorogo” yang berarti Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Sumber Daya Manusia terbaharukan yang dilengkapi dengan kemajuan teknologi adalah jalan terdekat membuka kemasan Festival Budaya Lembah Baliem dalam bingkai seni pertunjukan budaya suku Hubula bertaraf Internasional tahun 2019 mendatang.

Festival Budaya Lembah Baliem sebagai Ikon Pariwisata Papua di Mata Dunia

Upaya Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program pelestarian budaya dapat mendukung percepatan pembangunan karakter dan potensi daerah. Festival Budaya Lembah Baliem yang dilaksanakan sejak tahun 1989 hingga kini masih terus dilakukan. 30 tahun usia pagelaran budaya ini tanpa disadari memberi banyak dampak positif bagi Pemerintah Daerah. Festival tersebut kini menjadi Ikon Pariwisata Papua di mata dunia, akibatnya city branding (promosi daerah) Kabupaten Jayawijaya dengan sendirinya terbentuk sebagai destinasi tujuan wisata favorit bagi turis baik domestik maupun mancanegara. Sebuah prestasi membanggakan yang harus tetap dilestarikan dan dikembangkan bahkan harus direspon sesuai perkembangan jaman untuk membangun karakter daerah yang berujung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Festival Budaya Tertua di tanah Papua yang menampilkan jejak peradaban kehidupan nenek moyang Suku Hubula ini menjadi program rutin tahunan pemerintah daerah Kabupaten Jayawijaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang telah terdaftar dalam kalender event tahunan pariwisata nasional. Seni pertunjukan dan pesta budaya masyarakat Jayawijaya dari 40 distrik ini digelar setiap awal bulan Agustus selama tiga hari dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI. Atraksi kolosal perang-perangan, tari-tarian tradisional (ethai) dan seni merias tubuh dengan ragam assesoris karya suku Hubula, pertunjukan alat musik tradisional (pikon dan witawo), atraksi memasak tradisional (bakar batu), permainan anak (puradan dan sikoko), lempar sege dan karapan babi adalah gelaran budaya yang selalu ditampilkan dan dilombakan setiap tahun saat Festival berlangsung.

Hingga usia Festival Budaya ke-29 tahun 2018 Agustus lalu, ragam atraksi kegiatan tersebut masih mampu menarik banyak kunjungan wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri setiap tahun nya. Kegiatan ini adalah bagian dari partisipasi memajukan Industri Kreatif di bawah naungan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Subsektor Seni Pertunjukan (berbasis pariwisata dan budaya) yang perlu dipublikasikan seluas mungkin dan semerata mungkin secara konsisten dan efisien sesuai target Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dalam mengembangkan karakter dan potensi daerah ke depan.