Sekilas Sejarah Kota Wamena Papua

Sekilas Sejarah Kota Wamena Papua

Wamena (Lembah Baliem) merupakan Ibukota Kabupaten Jayawijaya. Wamena sejak tahun 1980-an sudah menjadi salah satu daerah tujuan wisata baik bagi para wisatawan asing maupun domestik yang menyukai wisata panorama alam, wisata pegunungan, trekking, wisata budaya, wisata petualangan dan wisata etnik.

SEJARAH

Lembah Bailem ditemukan pertama kali secara tidak sengaja oleh sebuah ekspedisi ilmiah pimpinan Richard Archbold ketika tim ekspedisi yang disponsori oleh American Museum of Naturally History ini melintas dan menemukan lembah ini pada tahun 1938. Richard Archbold Ketua Tim Ekspedisi AMNH, saat melintas di udara, ia melihat lembah yang luas dari kaca jendela pesawat pada tanggal 23Juni 1938 dan melakukan pendaratan. Lembah ini kemudian disebut “Lembah Agung”.

Kemudian Tim ekspedisi lain, dibawah pimpinan Kapten Teerink dan Letnan van Areken melakukan pendaratan di danau Yugima atau dikenal dengan sebutan Danau Habema. Tim ekspedisi ini melakukan perjalanan menuju arah Lembah Baliem melalui kampung Ibele dan mereka mendirikan Base Camp di Lembah Bailem.

Tahun-tahun beralu setelah era ekspedisi tersebut, Lembah Baliem terus memberikan kesempatan kepada dunia luar untuk masuk dalam lingkungannya. Dunia secara perlahan menjadi saksi bahwa masyarakat Pegunungan Tengah masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai seni dan kebudayaannya, memiliki keterampilan membangunkehidupannya sesuai dengan apa yang dimilikinya. Lembah Bailem dengan keunikannya masih dapat disaksikan melalui pelestarian kemahsyuran budayanya, seperti nilai budaya penghormatan kepada nenek moyang leluhurnya berupa bukti sejarah memumifikasikan jenasah orang-orang yang berjasa dengan menggunakan bahan-bahan ramuan alami dan tersimpan hingga keturunan generasi ke-7.

Mumi di Wamena

Namun tidak semua jasad dapat dimumifikasikan. Ada berbagai ketentuan adat yang harus dilalui dalam bentuk upacara dengan segala bentuk ritualnya dan pesta adat yang membutuhkan pengorbanan besar dari setiap suku klen, anggota suku klen dari berbagai wilayah yang tersebar di seluruh wilayan Lembah Baliem.

Masih banyak mumi yang disimpan kerahasiannya. Setidaknya pernah diinformasikan bahwa sebanyak 7 mumi yang terdapat di Wilayah Pegunungan Tengah, namun baru 4 mumi saja yang dapat dikunjungi, sedangkan sisanya masih di simpan dan dijaga kerahasiannya.

Selain jasad mumifikasi yang merupakan salah satu bagian dari kebudayaan masyarakat Lembah Baliem, kita juga dapat menyaksikan ragam budaya busana tradisional baik yang digunakan “imam pria ataupun kaum wanita, kita dapat melihat perumahan tradisional (honai), pola kehidupan masyarakat, perkampunganya.

Berkunjung ke pasar-pasar tradisional juga sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin mendapatkan berbagai potret kehidupan serta kebiasaan warga masyarakat Pegunungan Tengah dalam transaksi perekonomian di bidang hasil pertanian mereka.

GEOGRAFI

Kabupaten Jayawijaya dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969, tentang Pembentukan provinsi Otonom irian Barat dan Kabupaten-Kabupaten Otonom di Provinsi irian Barat (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1969 Nomor 47, tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 2907).

Berdasarkan pada Undang-undang tersebut Kabupaten Jayawijaya yang terletak pada garis lintang antara 138°30’ 139°40′ BT dan 3°45 4°20 LS dan memiliki daratan seluas 13925.31 km2, terbagi menjadi 40 Distrik dan 344 kampung. Kabupaten ini berbatasan di sebelah Utara dengan Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Yalimo dan Kabupaten Toiikara. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Nduga dan Kabupaten Yahukimo. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Yahukimo dan Yalimo sedangkan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Nduga dan Kabupaten LannyJaya.

DEMOGRAFI

Penduduk di Kabupaten Jayawijaya berdasarkan data Statistik Tahun 2014 berjumlah :t 293.805 jiwa, di mana jumlah penduduk terbesar berada di Distrik Wamena Kota. Mayoritas penduduknya beragama Nasrani, sisanya adalah pemeluk agama Islam dan Hindu. Walaupun mayoritas beragama Nasrani, namun penjualan kuliner bagi masyarakat pada umumnya dan wisatawan yang datang tidak ada perbedaan karena semua jenis makanan sangat mudah di dapatkan. Makanan halal pun tersedia.

IKLIM

Secara umum, di Kabupaten Jayawijaya beriklim tropis dengan kelembaban udara yang cukup tinggi sepanjang tahun. Rata-rata suhu udara berkisar antara 18,60°C 19,80°C dimana suhu minimum tercatat 14,70°C dan suhu maksimum dapat mencapai 26,10°C. Curah hujan bervariasi setiap bulannya, dimana curah hujan terbesar terjadi pada bulan Februari dan curah hujan terendah terjadi pada bulan September.

Rata-rata hari hujan selama 1 bulan ada sekitar 22 hari, yaitu terjadi pada bulan Juli dan Desember. Hal ini disebabkan karena kondisi topografi Kabupaten Jayawijaya yang bergunung-gunung dan masih banyak perbuktian, sehingga kondisi ini cukup menyulitkan untuk membedakan musim secara jelas.

BAHASA

Bahasa penghubung yang digunakan secara umum di Wilayah Pegunungan Tengah adalah bahasa Indonesia. Walaupun Kabupaten Jayawijaya sendiri memiliki bahasa daerah yang disebut Bahasa Hubula.

BUDAYA

Kepribadian orang Lembah Baliem dilihat dalam kehidupan kelompok etniknya merupakan suatu keseluruhan yang kompleks meliputi sifat karakteristik rohani, intelegensi yang pragmatis, berketerampilan sederhana, memiliki sifat batin dan mentalitas yang menyatu dengan alam lingkungannya, tata kelakuan yang bersifat simbolis berdasarkan keyakinan terhadap adat dan kebudayaannya.